Dia Bukan Untukku

Hari
pertama MOS itu sangat membosankan bagiku. Apa lagi harus
berpanas-panasan untuk upacara pembukaan MOS. Banyak korban pingsan di
lapangan sekolah itu. Tenggorokanku mulai kering dan sungguh membuat
kepalaku menjadi pusing. Tak lama, aku merasa sudah tak berdaya dan
jatuh pingsan. Tak lama aku membuka kedua mataku dan ternyata aku berada
di UKS sekolah. Bersama anggota PMR yang menjadi kakak kelasku waktu
itu. Aku masih lemas untuk beranjak dari tempat tidur. Dua sahabatku
datang menjengukku. Dan aku di tuntutnya untuk berjalan menuju kelas.
Sampai
di kelas aku menerima materi awal-awal perkenalan. Kutatap wajah
seorang cowok yang berada di seberang mejaku saat itu. Sebelum materi di
mulai, absensi siswa MOS saat itu di percepat. Berpasang-pasangan. Dan
tak kusangka namaku dipanggil dan cowok yang berada di sampingku tadi
juga maju dan ternyata dia bernama Arezaldhi Birasanjaya. Setelah tanda
tangan kehadiran, kami kembali ke tempat duduk semula.
Materi
pembelajaran untuk jam pertama sudah usai saatnya istirahat. Aku, Vhe,
dan Ze menyergap kantin sekolah dan berdesak-desakan. Dan kulihat lagi
cowok yang mempunyai nama Arezaldhi Birasanjaya sedang asyiknya ngobrol
dengan teman barunya di depan kelas. Sepertinya aku merasakan yang
namanya cinta pada pandangan pertama. Sudah 15 menit waktu untuk
istirahat. Waktunya masuk kembali untuk bermain dan belajar.
MOS
sudah berjalan tiga hari. Hari ini adalah hari terakhir MOS. Dengan
aturan hari ini, aku memakai kaos kaki berbeda warna, dengan rambut yang
di kucir sangat banyak seperti orang gila. Semua murid MOS mengikuti
upacara penutupan MOS. Hari yang panas. Terasa seperti di panggang.
Banyak korban pingsan di lapangan itu. Akhirnya upacara penutupan MOS
dipercepat.
***
Hari
ini adalah hari pertama aku masuk sekolah. Bisa bertemu banyak teman
baru. Mereka semua baik kepadaku. Saat aku berkenalan dengan salah satu
temanku yang bernama Algea Radista, mataku teralihkan oleh satu sosok
yang mungkin pernah aku kenal. Saat ku tatap pekat wajahnya ternyata
dialah Arezaldhi Birasanjaya. “Dia kan,” gumamku dalam hati.
“halo?Kenapa melongo gitu Dis?” tanya Gea sambil melambai-lambaikan
tanganya di depan wajahku. “emm,” aku tersentak olehnya. “kenapa?” tanya
Gea penasaran. “oh, ga… gak pa… papa,” kataku gagap. Gea memandangiku
dengan wajah bingung. Seperti otaknya penuh dengan tanda tanya.
“Gadis…,” sapa Ze dan Vhe. “ehh kalian,” kataku memandang Ve dan Zhe.
Vhe dan Ze tersenyum manis kepada Gea. “ini Gea,” kataku memperkenalkan.
“aku Vhe,” kata Vhe memperkenalkan dirinya. “aku Ze,” kata Ze juga
memperkenalkan dirinya. “so beautiful,” kata Vhe memuji kecantikan Gea.
“thank you very much,” kata Gea menjawab pujian Vhe dengan malu.
Aku,
Vhe, Ze, dan Gea sudah berteman sangat lama. Sudah lima bulan aku masuk
di kelas 7 C. Bersama-sama dengan ketiga sahabatku itu. Tiba-tiba
perbincanganku tersentak oleh sosok cowok yang memasuki kelasku. Dia……
Dia…… “Dis, kenapa melongo?” gertak Ze. “eemm, eh, eng… enggak papa,”
kataku gugup. “kenapa sih?” tanya Gea. “iya, pelit banget gak mau ngasih
tau,” tanya Vhe semakin mendesak. Mereka bertiga melihatku memandangi
Arezaldhi sejak tadi. “oo, itu toh yang buat kamu melongo,” ucap Gea
menggentakkan jantungku. “siapa, mana?” kataku bertanya-tanya dengan
ragu. “itu tuh,” kata Gea menyenggol lenganku dan melirik Arezaldhi.
“apaan?”. “sok gak tau nih,” gertak Gea lagi. Aku semakin salah tingkah
dibuatnya. Sosok cowok itu pun pergi meninggalkan kelasku. “siapa
emangnya?” tanya Vhe dan Ze bersamaan. “Arezaldhi,” kata Gea. “kamu suka
ya Dis?” tanya Ze ingin tau. “sok tau kamu Ge,” kataku. “uhuui, jatoh
ci’inta agi,” ledek Ze. “apaan sih kalian?” kataku meninggalkan mereka
bertiga yang semakin meledekku.
Suatu
hari acara ulang tahun sekolahku. Setiap kelas harus menampilkan
minimal satu pementasan. Semua teman kelasku memilihku untuk menyanyi
solo. Tapi aku seorang remaja yang demam panggung. Dan aku pun ditemani
oleh Gea yang suaranya lumayan bagus walaupun nggak sebagus suaraku…
hehehe J. Malam ulang tahun itu tiba yang memang bertepatan dengan hari
ulang tahunku. “grogi aku Ge,” kataku sambil gemeteran. “enjoy saja
Dis,” kata Gea memberiku semangat. “aku bener-bener demam panggung,”
kataku dengan keringat dingin. “nanti ada Reza kan yang ngeliat?” ejek
Gea. “jadi nama panggilanya Reza,” kataku sedikit tersenyum. “iya.” Hari
yang membuatku di selimuti oleh kegerogian yang luar biasa. Karena aku
dan Gea akan mewakili kelasku untuk memberikan penampilan yang terbaik.
Acara
itu pun dimulai. Dimulai dari kelas 9 lalu dilanjutkan kelas 8 lalu
menuju kelas 7. Penampilan yang begitu spektakuler telah ditampilkan
dengan penuh semangat. Beribu-ribu tepuk tangan mengiri suasana
tersebut. Tiba giliran kelas 7 C yang menampilkan aktrasinya. Jantungku
semakin berdebar dengan kencang. Keringat bercucuran ke seluruh badan.
Dengan genggaman erat tangan Gea aku dengan gugupnya menaiki panggung
dan mengecek mikrofon. Tepuk tangan pun mulai terdengar. Seolah aku tak
bisa membayangkan diriku nanti. Dentuman musik R&B mulai terdengar.
Dalam hitungan detik syair lagu akan mulai dinyanyikan. Gea dengan
semangat dan PD-nya menari-nari happy, sedangkan aku … ????
Keringat
bercucuran dari tubuhku. Keringat dingin menyelimuti seluruh tubuhku.
Dengan perasaan yang tak karuan aku mulai melantunkan lagu kesukaanku
itu. Siswa-siswa bertepuk tangan lama kelamaan aku merasa semakin enjoy.
Saat aku menyanyi, aku melihat Reza tersenyum kepadaku. Aku membalas
senyumanya yang tak kalah manis hehe J. Lagu itu pun usai ku nyanyikan.
Pertunjukan kurang dua kelas lagi. Ada yang dans, drama, nyanyi,
pelawak, sampai dengan band.
Hari
itu hari yang menyenangkan bagiku. Melihat ia tersenyum kepadaku
membuatku semakin bersemangat. “Gadis,” sapa Ze. “Eh, Ze. Yang lain
kemana?” kataku balik tanya. “tuh,” kata Ze menunjuk Vhe dan Gea. Vhe
dan Gea melambaikan tanganya kepadaku dan Ze. Tiba-tiba Ze menarik
tanganku meninggalkan tempat itu. “Gadis, Ze. Mau kemana?” tanya Gea.
“bentar aja,” teriak Ze dari kejauhan. Gea mengajakku ke tempat yang
sepi, dan Ze tampak serius memandangku. “apa kamu bener suka Reza?”
tanya Ze menatap kedua mataku. Aku tidak tau harus berkata apa. Semua
kebingunan merasuki otakku. Aku terdiam mematung. “iya,” kataku lirih.
“aku
punya informasi tentang si Reza itu,” ungkap Ze. “info apa?” tanyaku
kebingungan. “dia sudah mempunyai pacar,” kata Ze berbisik kepadaku.
“kamu tau dari siapa?” tanyaku sedih. “kamu tau Viona Adelima kan?” kata
Ze menguatkan. “ya.” “dialah pacarnya,” kata Ze. Aku sedikit ragu dan
meneteskan air mata. “kenapa aku mencintai orang yang salah selama ini?”
kataku menambah tangisanku. Isak tangisku terdengar oleh Vhe dan Gea.
“kenapa dia?” tanya Vhe dan Gea. “kamu tidak salah mencintai dia tetapi
kamu hanya belum beruntung mendapatkanya,” hibur Ze. Ze berbisik kepada
Gea dan Vhe atas semua ini. “sudahlah Dis, kenapa harus menangis karena
cinta?” hibur Gea. “iya, dia bukan sosok yang baik untuk kamu. Banyak
cowok yang mau sama kamu di luar sana. Bahkan lebih baik dari Reza,”
ungkap Vhe memberi semangat. Aku terharu dengan semuanya. Aku memeluk
erat tubuh ketiga sahabatku itu dengan penuh keikhlasan dan aku tau dia
bukanlah untukku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar